Pluviophile

hujan

Yaaah, hujan deh.

Gua berkata pada diri gua sendiri di sudut Masjid Ar Rahmah, masjid SMA gua dulu. Buku1001 Soal dan Pembahasan masih berserakan di depan gua. Buku yang nge-hits di kelas 12 itu akhirnya nggak jadi gua beresin karena awalnya niat pulang tapi akhirnya urung karena hujan.

Kenapa hujannya turun pas lagi mau pulang? Hujannya harus sekarang banget ya?

Pertanyaan retoris. Nggak perlu untuk dijawab karena emang nggak ada yang bisa jawab kecuali Dia. Yah, gua dulu pernah mempertanyakan ketetapan Dia yang di atas langit, sebuah tindakan kurang ajar yang dilakukan oleh makhluk yang bernaung di kolongnya.

Tinggal di Bogor mungkin ngebuat gua udah bosan sama yang namanya hujan. Hujan adalah identitas kota ini dan rutinitas bagi warganya. Udah biasalah sama yang namanya kehujanan, hujan-hujanan, rasa air hujan, dan wangi unik jalanan sehabis hujan. Suka sih kalau hujan pas gua lagi di waktu dan tempat yang tepat. Kalau nggak tepat? Ya udah deh, menderita. Hujan yang sering datang tiba-tiba, kadang gua puja, kadang gua cela. Hingga akhirnya suatu hari gua datang ke kajian di masjid dekat rumah gua. Di sana sang ustadz berkata,

Baiknya akhlak dan pemahaman seorang muslim terlihat di awal hujan turun

Gua, yang terkantuk-kantuk di shaf belakang, bergumam dalam hati,

Hah? Apa hubungannya?

**********

Dari Bogor gua berangkat ke Surabaya, kota tempat gua melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kota yang -jujur aja- nggak pernah sama sekali kepikiran untuk kuliah di sana. Apa lagi kabar yang gua dengar tentang kota ini banyak negatifnya. Tomcat-lah, Dolly-lah, dan kesan yang nggak enak kalau tinggal di Surabaya karena termasuk kota yang paling panas se-Indonesia.

Untuk kabar pertama, alhamdulillah pas gua tiba di sana itu wabah udah nggak keliatan lagi. Kalau kabar kedua, sebejat-bejatnya gua jangan sampai deh mampir ke sana,na’udzubillah min dzaalik. Dan kalau untuk kabar ketiga derajatnya shahih, baik dari segi sanad maupun matan. Yang merasakannya pun mutawatir. Seminggu masih tahan, dua minggu mulai gelisah, dan minggu ketiga fix menahan derita. Langit Surabaya fakir awan dan dhuafa hujan. Makin lama makin ada suatu kerinduan ketika menatap langit: rindu untuk melihat mendungnya awan, rindu untuk menyambut air bertaburan, dan rindu untuk memeluk hujan.

Hingga akhirnya datanglah hari itu, hari ketika kelam menggelayuti cakrawala dan angin berhembus sengit. Sama seperti pengguna motor yang lain, gua segera memacu kendaraan gua. Berharap hujan akan turun ketika gua di waktu dan tempat yang tepat. Tapi apa daya, sekujur tubuh gua udah keburu basah kuyup disiram air dari langit sebelum nyampe di kosan tercinta. Tapi anehnya gua malah senang, ada kesenangan tersendiri rupanya. Hati dan lisan gua nggak sempat untuk mengeluh dan mencela, karena memang mereka sibuk mendengungkan,

Allahumma shayyiban naafi’aa

pluviophile

Seketika di benak gua sayup-sayup ada suara familiar terlintas begitu aja. Suara itu adalah suara ustadz yang dulu mengisi kajian di dekat rumah gua. Bak rekaman yang diputar, suara itu kembali hadir dalam pikiran…

Baiknya akhlak dan pemahaman seorang muslim terlihat di awal hujan turun. Kalau dia bersyukur dan memuji-Nya, maka semoga dia termasuk muslim yang baik. Tapi kalau yang terjadi sebaliknya, maka harus dipertanyakan statusnya. Bukankah hujan adalah nikmat Allah? Ketentuan Allah? Apakah seorang muslim dikatakan baik jika ia malah mencela nikmat yang Allah turunkan? Apakah seorang muslim dikatakan baik jika ia menggugat ketentuan yang Allah gariskan?

**********

Ternyata perkara akidah itu sangat dekat dengan kehidupan kita. Akidah tidak melulu hanya sekadar teori. Akidah adalah tentang pola pikir dan pemahaman, karena akidah berarti keyakinan kuat yang tidak tercampur dengan keraguan [1]. Bukankah kita membangun pola pikir, kita melihat dan memahami, sesuai dengan apa yang kita yakini?

Kita sering menganggap bahwa kesalahan dalam perkara akidah hanya berlaku bagi mereka yang telah difatwa sesat oleh ulama. Padahal bisa jadi setiap hari keyakinan, lisan, dan perbuatan kita tergelincir dalam kesalahan akidah. Bisa jadi hanya karena perkataan ringan yang dilontarkannya, justru membuat seorang hamba dilempar ke dalam neraka [2].

Salah satu contoh yang dekat adalah hujan, nikmat yang sering orang cela dan dustakan. Mencela hujan berarti mencela yang telah menurunkan hujan, mencela ketetapan yang telah digariskan. Bukankah mencela tidak akan mengubah apa-apa kecuali hanya menambah dosa?

Tidak hanya tentang hujan, tapi tentang seluruh kejadian. Kita bukan orang yang tinggal di negeri dongeng yang hidupnya telah terpenuhi segala keinginannya. Kita hidup di dunia nyata yang telah terikat dengan apa-apa yang Allah kehendaki, atau sering disebut takdir. Apakah baik atau tidak takdir tersebut, toh pasti akan terjadi juga. Takdir itu bagaikan hujan: Mau tidak mau, suka tidak suka, cepat atau lambat, ia yang jatuh dari langit pasti akan sampai ke bumi bagaimana pun caranya.

Dan yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah bagaimana menyikapinya, apakah orang itu bersyukur dengannya atau tidak.

Hujan adalah nikmat Allah, yang dengan kedatangannya merupakan waktu doa-doa diterima. Cerah pun adalah nikmat, yang dengan panas mataharinya bisa membuat orang bebas beraktivitas.

Bersyukur atas segala keadaan adalah perilaku seorang muslim yang mengimani takdir. Yang mengimani bahwa segala ketetapan Allah, baik yang disukai atau tidak, hakikatnya adalah yang terbaik baginya.

Allah knows everything, while we know nothing. There is always a bright side in every circumstances, in everything. If only we know how to find it. Be grateful instead of keep complaining. [3]

Ah, betapa mudahnya rumus bahagia: Ketika kita mensyukuri segalanya. Yang kalau di buku Titik Nol-nya Agustinus Wibowo disebut,

Semua orang bisa berbahagia saat ini juga, kalau mau.

Di bawah pekatnya langit tengah malam Surabaya, 16 Februari 2015.

___________________________________

[1] http://almanhaj.or.id/content/3429/slash/0/pengertian-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah/

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang mengundang ridha Allah, yang tidak sempat dia pikirkan, namun Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Sebaliknya, ada hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dia pikirkan bahayanya, lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Ahmad 8635, Bukhari 6478, dan yang lainnya).

[3] aisyafra.wordpress.com

image source: mywordwizard

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

One thought on “Pluviophile”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s