Jangan Golput, Yuk Jadi Pemilih Cerdas!

voteimgpress

Indonesia yang pemilu, lha kenapa kaum muslimin-nya yang heboh?

Akhir-akhir ini memang lagi ramai tentang pemilu legislatif yang sebentar lagi akan dilaksanakan di negeri tercinta ini -insya Allah-. Berbagai partai politik sudah memasang calon-calonnya untuk siap bertarung memperebutkan suara rakyat demi mendapat kursi di gedung parlemen. Partai-partai politik itu tentu sudah membawa ideologi dan menyiapkan jargon sendiri-sendiri yang akan mereka perjuangkan. Ada yang partainya -katanya- berjuang untuk wong cilik, ada yang demi perubahan Indonesia, ada yang menyuarakan restorasi. Ah, entahlah. Bising sekali teriakan-teriakan mereka.

Sayangnya, yang bisingtidak hanya di kalangan para calon legislatif (caleg) saja, di kalangan masyarakat yang jadi sasaran pemilihan pun nggak kalah bisingnya. Ironisnya, yang banyak melakukan kebisingan ini justru dari kaum yang telah dipersaudarakan Allah oleh ikatan keimanan: Kaum Muslimin.

Ya, masalah memberikan suara dalam pemilu ini cukup menyita perhatian ummat Islam di Indonesia. Tentang bagaimana sikap sebagai seorang muslim menghadapi pemilu yang nggak lama lagi digelar di seluruh Indonesia. Pertanyaannya bukan tentang “Partai mana yang seharusnya saya pilih? Caleg mana yang harus didukung?” tetapi tentang “Bagaimana hukumnya memberikan suara dalam pemilu?” yang tentu saja mengerucut pada dua hal, boleh atau mutlak haram.

Pihak yang mengatakan boleh berpartisipasi dalam memberikan suara di pemilu ini sebenarnya memiliki beberapa alasan. Ada yang alasannya karena memang dia adalah kader atau simpatisan suatu partai tertentu, ada yang karena kedekatan ideologi atau satu pemikiran, dan ada juga yang memutuskan ikut memilih dalam pemilu karena berada di kondisi terpaksa dan darurat meski ia meyakini bahwa sistem demokrasi adalah sistem kufur dan zhalim yang bertentangan dalam syari’at Islam itu sendiri.

Sementara itu pihak yang menyatakan bahwa memberikan suara dalam pemilu adalah mutlak tidak boleh atau mutlak haram juga memiliki alasan sendiri. Sepanjang yang gua tau, kebanyakan -kalau tidak mau dikatakan seluruhnya- dari mereka beralasan bahwa sistem demokrasi adalah sistem kufur yang dibuat oleh orang-orang kafir yang tentunya berkaitan dengan Al Walaa’ (loyalitas) dan Al Baraa’ (berlepas diri). Jadi memilih caleg adalah berpartisipasinya seseorang ke dalam sistem kufur yang tidak akan diberkahi Allah.

Dengan adanya dua perbedaan pandangan yang sedemikian runcing tentu menimbulkan kebingungan. Masalahnya, problem ini tidak hanya menyangkut sebatas bagaimana hukumnya, tetapi dikaitkan hingga ke masalah aqidah seseorang yang bahkan oleh segolongan kaum muslimin, dengan keikutsertaannya dalam pemilu dan demokrasi bisa digolongkan keluar dari statusnya sebagai seorang muslim, Na’udzubillah min dzaalik.

Wah, ini kalau udah masuk ranah pengkafiran udah berat deh pembahasannya. Oke, kembali ke topik awal.

Ehm, sebelumnya gua mau cerita. Gua pernah datang di sebuah kajian penggalangan dana untuk Suriah. Di sesi tanya jawab ada seorang jama’ah yang bertanya kepada sang ustadz -hafizhahullah- mengenai pemilu. Nggak cuma itu, si penanya juga mempertanyakan fatwa para ulama yang ia sebut sebagai golongan “Salafi” yang membolehkan memberikan suara dalam pemilu demi maslahat karena kondisi saat ini sudah masuk dalam kondisi darurat di mana caleg-caleg dari Syi’ah dan golongan yang memusuhi Islam sudah ingin menguasai parlemen. Sang ustadz pun menjawab bahwa bagaimana pun memberi suara dalam pemilu adalah haram karena berlepas dari ketaatan kepada Allah. Dan sang ustadz pun menambahkan bahwa kita seharusnya bersyukur ketika kita dipimpin oleh orang-orang yang memusuhi Islam, karena itu artinya kemenangan sudah semakin dekat.

Subhanallah, penjelasan yang menurut gua yang kurang ilmunya ini sebagai penjelasan yang kurang masuk akal. Betul, gua setuju bahwa sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini adalah sistem buatan manusia yang sejatinya kufur kepada Allah, karena menempatkan kekuasaan di tangan rakyat, di mana suara orang jahil disamakan dengan suara orang berilmu, di mana yang banyak itu adalah yang menang meski berada di dalam kesesatan.

Nggak kebayang kalau seandainya kita harus tetap golput selama berpuluh-puluh tahun sampai akhirnya ada yang menerapkan syari’at Islam. Lha kalau gitu, kapan dan di mana kita harus menjalankan perintah Allah untuk tidak memilih pemimpin kafir dan memilih pemimpin yang muslim kalau ikut milih aja dilarang? Apakah kita akan membiarkan orang-orang Syi’ah, para musuh Islam, dan orang-orang munafik di luar sana akan menjadi amir kita, akan memegang urusan-urusan kita? Masalah memilih pemimpin ini adalah masalah yang amat penting, karena -dengan kekuasaan Allah- lewat tangan pemimpinlah apa-apa yang awalnya sempit bisa dilapangkan, begitu pun sebaliknya. Contoh ketika Bu Risma, Walikota Surabaya, menutup lokalisasi Dolly yang sudah bertahun-tahun meresahkan masyarakat. Apa-apa yang telah masyarakat perjuangkan sejak dahulu kala, apa-apa yang telah diusahakan oleh para da’i setelah sekian lama, akhirnya tuntas hanya dalam waktu singkat -dengan rahmat Allah- lewat usaha pemimpin itu tadi.

Memilih pemimpin yang baik tentu saja termasuk memilih perangkat-perangkat pemerintahan yang baik pula. Entah itu di lingkup yudikatif atau legislatif. Gua heran dengan baliho yang dipampang oleh salah satu partai, “Coblos m#nc#ng putih antarkan J#k*wi jadi persiden” padahal pilpres masih lama. Taktik menarik simpati yang murahan banget kalau kata gua. Bisanya cuma jual figur Pak Jokowow. Cerdas memang, tepat untuk menargetkan masyarakat yang mudah termakan media atau sudah terlalu bosan dengan muka lama dan butuh muka baru yang tampaknya menjanjikan. Mungkin orang yang langsung percaya akan mikir, “Yaudah, siapapun calegnya yang penting pilih m#ncong put*h supaya J#k#wi jadi presiden” padahal belum tentu si caleg adalah orang baik, belum tentu visi partai itu baik, belum tentu menteri dan anggota parlemen yang bakal nyusun Undang-undang itu baik. Mungkin argumen gua udah sangat sependapat sama Pak B.J. Habibie (baca: di sini)

Oke, kenapa gua koar-koar untuk milih pemimpin dan perangkat-perangkatnya yang baik? Karena sejarah udah ngasi bukti kongkrit ke kita.

Dulu sebelum Daulah Abbasiyah di Baghdad jatuh ke tangan Hulaghu Khan, kondisi mereka nggak jauh dari kondisi kita di Indonesia saat ini. Tetapi ketika ada satu orang menteri Syi’ah bernama Ibnu Al Alqami yang memegang kendali, tentara Khalifah yang seharusnya berjumlah ratusan ribu dipulangkan sehingga tinggal berjumlah 10.000 saja. Tak ayal, Baghdad luluh lantak karena ulah satu menteri pengkhianat ini. Khalifahnya memang masih seorang muslim, hukumnya memang masih menggunakan hukum Islam. Tapi cukup dengan satu menteri rusak yang memegang kendali, jutaan nyawa melayang dengan mudahnya.

Suriah tempo dulu keadaannya mirip-miriplah dengan kita sekarang. Mungkin semua orang pada awalnya tidak memiliki firasat apa-apa ketika dikuasai Partai Ba’ath dengan Hafez Al Assad sebagai pemimpinnya saat itu. Tetapi kini, 40 tahun setelah Partai Ba’ath terpilih, dunia menjadi saksi huru-hara di tangan Bashar Al Assad yang terjadi di Suriah. Padahal masih banyak orang baik di sana, masih banyak ulama-ulama di dalamnya, tetapi ketika para pendosa yang menguasai, jutaan orang meregang nyawa dengan tragisnya.

Tentu kita tidak ingin tragedi tersebut kembali terjadi di Indonesia, tetapi lihatlah realitanya sekarang di Indonesia. Ketika musuh ummat Islam saat ini -terutama Syi’ah- telah berani menunjukkan taringnya saat ini maju menjadi caleg, bahkan ada yang mengusulkan salah satu pentolan Syi’ah di Indonesia untuk menjadi Menteri Agama. Apakah kita akan membiarkannya begitu saja?

Ketika kita, kaum muslimin, memilih diam dan membiarkan orang-orang Syi’ah, fasik, dan munafik untuk maju menjadi pemimpin, maka artinya kita membiarkan mereka menguasai kita.

Apakah diam jadi solusi saat ini? Ya nggaklah.

Gua pikir baca fatwa-fatwa ulama “Salafi” seperti yang dibilang jama’ah masjid waktu itu jauh lebih solutif ketimbang “Nunggu syari’at Islam tegak sambil berdakwah dan bersyukur ketika kita dikuasai orang jahat karena itu artinya kemenangan udah semakin dekat”

http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-memberikan-suara-dalam-pemilu.html

http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-2-memberikan-suara-dalam-pemilu.html

Mungkin yang mau gua sampein di sini adalah hendaknya ikut pemilu karena menghindarkan kerusakan yang lebih besar dengan memilih kerusakan yang lebih ringan. Udah jelas bahwa para ulama juga mengakui bahwa demokrasi adalah sebuah kerusakan yang nyata, tetapi demi menghindari kerusakan yang lebih besar maka kita seharusnya memilih kerusakan yang lebih kecil. Karena apabila menghilangkan kerusakan secara keseluruhan itu sulit dilakukan, maka diwajibkan untuk menghilangkannya sebisa mungkin, karena ini lebih baik daripada membiarkan hal itu.

Jadi ditekankan lagi kita seandainya ikut dalam pemilu maka hal itu karena alasan menolak keburukan terbesar dengan keburukan terkecil, bukan karena hal itu baik. Keburukan terkecil sama hal yang baik itu beda loh…

Cukuplah satu Ibnu Al Alqami, cukuplah satu Hafez Al Assad, cukuplah satu Bashar Al Assad. Jadilah pemilih yang cerdas yang tidak menyianyiakan hak suaranya 🙂

Ah iya, btw gua agak sedih juga akhirnya gua sendiri jadi golput karena salah komunikasi pas mau pindah DPT di Surabaya 😦

Semoga Allah menambahkan petunjuk-Nya kepada kita semua.

 

Perumahan Bumi Marina Emas, Surabaya.

Di tengah pekatnya langit dini hari 1 April 2014.

_____________________________________

Daftar bacaan:

  • Al Wajiz fii Syarh Al Qawa’id Al Fiqhiyyah fii Asy Syari’ah Al Islamiyah, Dr. Abdul Karim Zaidah. Edisi Indonesia: Al-Wajiz, 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari. Penerbit: Pustaka Al Kautsar.
  • http://muslim.or.id/
  • http://kisahmuslim.com/

 

image source: leverdigital.com

 

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s