Noktah-noktah Hitam

black

Pernah merasa sakit perut? Rasanya tidak mungkin tidak ada yang tidak pernah merasakannya. Ketika perut kita sakit, maka mungkin kita sering menyimpulkan ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada perut kita: apakah itu maag, masuk angin, salah makan, atau mungkin diare.

Atau misalnya ketika sakit kepala, sakit yang sudah menjadi penyakit umum saat ini. Ketika kepala kita sakit, maka mungkin kita bisa mengambil beberapa kesimpulan dengan mudah: kita mungkin sakit demam, sakit kepala biasa, migrain, atau mungkin hanya karena kurang tidur.

Dan untuk dua contoh sakit di atas, maka kita bisa juga dengan mudah menanggulanginya. Entah misalnya kalau maag maka minum obat maag, kalau kita masuk angin maka cukup oleskan minyak angin ke perut dan punggung kita, jika sakit kepala kita bisa minum obat sakit kepala, atau dengan penyelesaian termudah yakni tidur, istirahat yang cukup agar tubuh bisa kembali bugar.

Itu kalau misalnya sakit fisik…

Tapi ketika penyakit yang diderita bukanlah penyakit fisik..? ketika yang sakit itu adalah qalbu kita…

Ketika futur itu melanda…

Ketika ibadah tidak lagi tepat waktunya, ketika langkah kaki ini terasa berat menuju masjid, ketika lidah ini tidak lagi basah karena doa dan dzikr, ketika mata ini memuaskan pandangan sesuai nafsunya, ketika canda tawa dan senda gurau melalaikan kita untuk menunaikan hak Allah ‘azza wa jalla…Dan selama itu kita alami, apakah kita tidak merasa ada yang salah dengan hati ini? Tidakkah kita merasa bahwa kita sakit?

Penyakit fisik bisa dengan cepat diatasi karena kita SADAR akan hal itu. Tapi penyakit qalbu, kita bahkan tidak tahu bahwa hati kita ini merintih karena beban maksiat…yang kita hanya lakukan hanyalah “Let it be”, membiarkan itu terjadi. Padahal, tanpa kita sadari, hati ini telah sekarat, hati ini telah digiring menuju kematiannya…

Yah, mungkin penyakit ini berawal dari satu hal kecil. Misalnya, ketika mata ini memandang kejelitaan seseorang. Di hati ini mungkin terbesit sebuah kesejukan dikala kita memandangnya. Tapi sadarlah, bukan matamu yang berhak menikmati keindahan itu, dan bukan hatimu yang seharusnya merasa sejuk memandangnya karena memang, kesejukan dari ketidakberhakkan adalah kesejukan yang membawa angin tandus bagi hati kita.

Atau mungkin ketika adzan mengoyak cakrawala langit, langkah kita begitu lama terayun untuk memenuhi panggilan-Nya. Mungkin kita terlalu banyak memberi alasan untuk diri kita? “Aduh, banyak tugas nih”, “Aduh, nanggung ah dikit lagi”, “Ah, baru juga azan. 5 menit lagi paling masih bisa jama’ah

Kita terlalu banyak memberikan toleransi untuk diri kita sendiri, seribu alasan untuk tidak melakukan satu amalan. Ironis memang, bahkan untuk memenuhi kebutuhan jiwa kepada Rabbnya, kita masih banyak memberikan eksepsi.

Ketika setitik demi setitik jerawat tumbuh di wajah, mungkin diantara kita ada yang merasa malu menghadapi dunia. Tetapi ketika setitik demi setitik noktah hitam itu menjangkiti hati kita, rasanya tidak ada apa-apa. Kita masih PeDe kepada Tuhan kita.

Dan noktah-noktah itu bermunculan…

Satu noktah untuk melihat yang tidak berhak dilihat, satu noktah lagi untuk melalaikan shalat, satu noktah lagi untuk bergunjing. Satu noktah, dua noktah, hingga ribuan noktah….untuk setiap maksiat yang telah kita lakukan.

Jika sudah begitu, masihkah kita merasa kita adalah manusia yang sehat? Kalau dari jasad, IYA. tetapi untuk yang di dalam sana, yang merupakan raja bagi jasad kita…

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, yang apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila buruk maka buruklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)

Apabila baik, seluruhnya baik. Apabila buruk, seluruhnya buruk.

Sebuah konsep yang jelas tentang hitam-putih…

Begitu pun dengan hati. Hati yang putih karena kemurniannya, dan hati yang hitam karena ketercemarannya. Hanya tentang “hitam” atau “putih”, tergantung warna apa yang mendominasinya.

Dan noktah-noktah itu…menutupi hati, menambah keruhnya hati ini. Duhai, seandainya hati ini bisa bicara, maka ia akan menjerit! Bagaikan kanker yang menggerogoti tubuh, noktah hitam itu lama kelamaan menyelimuti hati…dan itu karena keterlambatan kita untuk sadar akan hal itu.

Tunggu, terlambat sadar? Memang ada. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk kebaikan.

Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.” (HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad 2/297)

Inilah solusinya, bagaimana hati ini kembali sehat. Inilah obat untuk sakit qalbu yang telah kita alami selama ini.

Merasa berat dengan melakukan kebaikan? Obat mujarab memang rasanya pahit. Begitu pun kebaikan, berat di awal. Tapi tidakkah kita ingin sembuh dari “kanker noktah hitam” kita? Tidakkah kita ingin agar kita menjadi manusia dengan qalbu yang sehat? Orang yang menderita kanker berat pun rela melakukan kemoterapi yang biayanya tidak ringan untuk menyembuhkan penyakitnya. Sedangkan ini, tidakkah kita ingin berjuang untuk kesembuhan kita?

Cepatlah bergerak sebelum hati itu benar-benar mati. Sebelum diri ini merasa aman dari maut dan adzab-Nya. Karena ingat, tidak ada yang tahu apakah kita masih bisa melakukan kebaikan di masa yang akan datang.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran: 133)

…Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…” (QS. Al Baqarah: 148)

Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al A’raaf: 56)

Selesai ditulis saat dhuha menggantung di langit Surabaya

8/12/2012

image source: shutterstock

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s